Batagak Pangulu dan Alek Nagari: Menyaksikan Adat Luhak Nan Tigo Hidup di Batusangkar
Batagak pangulu dan alek nagari di Batusangkar masih dijalankan sebagai adat hidup Luhak Nan Tigo, dari Pagaruyung hingga nagari di Tanjung Emas.
Poin Penting
- Batusangkar adalah ibukota Kabupaten Tanah Datar, berjarak sekitar 100 km dari Padang atau tiga jam berkendara.
- Pusat pemerintahan Kabupaten Tanah Datar berada di Kecamatan Tanjung Emas, tepatnya Nagari Pagaruyung.
- Batusangkar meliputi tiga kecamatan: Lima Kaum, Tanjung Emas, dan Sungai Tarab.
- Penduduk Batusangkar pada 2023 sebanyak 38.920 jiwa.
- Batagak pangulu dan alek nagari adalah dua tradisi adat Minangkabau yang masih dihidupkan di nagari-nagari sekitar Batusangkar.
Adat yang Masih Berdenyut di Tepi Pagaruyung
Di Batusangkar, adat bukan panggung yang dibuka setahun sekali. Di nagari-nagari sekitar Kecamatan Tanjung Emas, Lima Kaum, dan Sungai Tarab, orang masih menggelar batagak pangulu dan alek nagari seperti yang dilakukan nenek moyang mereka di kawasan Luhak Nan Tigo. Batusangkar sendiri adalah ibukota Kabupaten Tanah Datar, kota kecil berjarak sekitar 100 km dari Padang, ditempuh tiga jam berkendara. Pusat pemerintahan kabupaten berada di Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, kawasan yang dalam tambo Minangkabau dikaitkan dengan Pagaruyung. Pada 2023, penduduk Batusangkar tercatat 38.920 jiwa.
Batagak pangulu adalah upacara pengangkatan penghulu, kepala kaum dalam struktur adat Minangkabau. Alek nagari adalah pesta nagari, hajatan besar yang melibatkan seluruh warga. Keduanya jarang digelar sendiri-sendiri. Batagak pangulu sering menjadi pemicu alek nagari, sebab pengangkatan seorang penghulu menyangkut harta pusaka, kaum, dan hubungan antarnagari. Di Batusangkar, dua tradisi ini masih menjadi urusan serius, bukan sekadar seremonial.
Jalannya Batagak Pangulu
Sebuah batagak pangulu biasanya dimulai jauh sebelum hari-H. Kaum yang hendak mengangkat penghulu berunding dengan mamak, ninik mamak, dan pemangku adat. Yang dibahas bukan hanya siapa yang layak, tetapi juga kesiapan harta pusaka, tanah ulayat, dan kesepakatan seluruh anggota kaum. Jika tidak sepakat, batagak pangulu ditunda. Di banyak nagari di Tanah Datar, prinsip ini masih dipegang: adat tidak boleh dipaksakan.
Saat hari pelaksanaan, rumah gadang atau balai adat menjadi pusat kegiatan. Ninik mamak dari nagari tetangga diundang. Pidato adat disampaikan dalam bahasa Minangkabau, dengan pasal dan pepatah yang dihafal di luar kepala. Penghulu yang diangkat menerima gelar, disaksikan kaum dan nagari. Setelah prosesi inti selesai, barulah alek nagari bergulir: warga menumbuk beras, memasak rendang, dan menyiapkan hidangan untuk tamu yang datang dari berbagai arah. Di Batusangkar, alek nagari bisa berlangsung beberapa hari, tergantung besar-kecilnya hajatan.
Alek Nagari dan Ekonomi Warga
Alek nagari bukan hanya soal adat. Ia menggerakkan ekonomi warga Batusangkar. Pasar-pasar di sekitar Tanjung Emas dan Lima Kaum ramai menjelang hajatan. Pedagang daging, sayur, dan bumbu dapur kebanjiran pesanan. Tukang masak dan pekerja harian mendapat upah dari hajatan tersebut. Meski nilainya bervariasi, secara umum biaya alek nagari di Batusangkar relatif terjangkau karena ditanggung bersama oleh kaum dan warga nagari.
Yang menarik, alek nagari di Batusangkar masih mempertahankan pola gotong royong. Warga nagari datang membantu tanpa diminta, terutama untuk pekerjaan berat seperti mendirikan tenda, memasak dalam jumlah besar, dan menyiapkan tempat duduk. Tradisi ini bertahan karena adat di Luhak Nan Tigo tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan leluhur, tetapi juga hubungan antarmanusia. Di Batusangkar, adat masih menjadi lembaga sosial yang berfungsi, bukan sekadar warisan yang dipajang di museum.
Kenapa Bertahan?
Batusangkar berada di jantung Luhak Nan Tigo, wilayah adat yang dalam sejarah Minangkabau menjadi rujukan. Letaknya yang sekitar tiga jam dari Padang membuat kota ini tidak terlalu jauh dari pusat administrasi, tetapi juga tidak terlalu terbuka terhadap arus yang menggerus adat. Banyak perantau asal Batusangkar tetap pulang untuk menghadiri batagak pangulu dan alek nagari. Kepulangan mereka menjaga tradisi tetap hidup.
Selain itu, nagari di Tanah Datar masih memiliki struktur adat yang lengkap: ninik mamak, penghulu, dan pemangku adat. Struktur ini yang membuat batagak pangulu dan alek nagari bisa terus digelar. Tanpa struktur itu, tradisi hanya akan menjadi cerita. Di Batusangkar, struktur itu masih ada, dan warganya masih menggunakannya. Pada 2023, dengan penduduk 38.920 jiwa, Batusangkar tetap menjadi kota kecil yang adatnya hidup di tengah kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa itu batagak pangulu?
Batagak pangulu adalah upacara adat Minangkabau untuk mengangkat seorang penghulu, kepala kaum. Prosesnya melibatkan perundingan kaum, kesiapan harta pusaka, dan persetujuan ninik mamak.
Apa itu alek nagari?
Alek nagari adalah pesta nagari, hajatan besar yang melibatkan seluruh warga. Biasanya digelar setelah atau bersamaan dengan acara adat seperti batagak pangulu.
Di mana Batusangkar berada?
Batusangkar adalah ibukota Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Kota ini berada di tiga kecamatan: Lima Kaum, Tanjung Emas, dan Sungai Tarab. Jaraknya sekitar 100 km dari Padang.
Apakah batagak pangulu dan alek nagari masih digelar di Batusangkar?
Ya. Di nagari-nagari sekitar Batusangkar, kedua tradisi ini masih digelar, terutama di kawasan Tanjung Emas, Lima Kaum, dan Sungai Tarab.